Blog Archive

Wednesday, December 21, 2011

Rain, melody of life



Hari itu jam 3.19 aku bersiap-siap pergi les piano. Saat diperjalanan, perlahan hujan turun rintik-rintik. Beberapa saat kemudian aku mendapati diriku dikelilingi orang-orang berjas hujan walaupun hujan masih gerimis. Sebisa mungkin aku mempercepat laju motorku. Aku mungkin orang satu-satunya yang belum 'sedia payung sebelum hujan'. Bukan tidak mau prepare, tapi aku suka hujan. Lagipula ini belum hujan, batinku. Andai saja tidak ke tempat les, aku pasti sudah ber"basah-basah" ria. Untungnya aku masih punya malu untuk datang ke tempat les basah-basah. Namun usahaku untuk tiba sebelum hujan besar sia-sia.

Ditengah perjalanan, hujan mengguyurku. Air hujan menerpa wajah, menusuk mataku. Karena tidak memakai helm, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku berteduh di depan rumah orang. Aku memakai jas hujanku walau aku tau itu sia-sia, lalu kembali duduk di motorku. Aku termenung lama menunggu hujan reda.

Di seberang jalan, ada sebuah mini market tempat banyak orang berteduh. Mereka memakai helm, hanya saja mereka tidak berjas hujan. Aku bukanlah orang yang takut basah seperti mereka. Andai saja aku memakai helm, aku akan menembus hujan menuju jalan pulang, pikirku. Saat termenung lama menunggu hujan reda, tiba-tiba arah angin berbalik padaku. Walau berteduh, aku benar-benar habis terkena hujan. Lalu aku hanya bisa diam. Kembali aku termenung.

Hujan ini seperti melodi kehidupan. Tidak ada yang tahu kemana arah angin membawanya. Kehidupan bisa saja mujur, berada diatas, tapi angin bisa saja berbalik pada kita. Membuat badai. Menghancurkan kita. Aku kembali memutar otak. Jika aku bersikeras pulang dengan hujan lebat seperti ini, itu artinya aku melawan hujan, menantang maut. Jika aku tetap diam termangu mengikuti orang-orang lainnya menunggu hujan - aku tahu hujan ini tidak sebentar, aku akan membuang waktuku disini sepanjang sore.

Saat mencoba memikirkan apa solusi dari semua itu, tiba-tiba aku ingat suatu kalimat orang bijak. Untuk mencoba apakah kalimat itu benar-benar terbukti, maka aku menyalakan motorku, berbalik ke arah pulang, lalu mulai menjalankan motorku. Perlahan tapi pasti, aku jalan melewati banyak muka yang tercengang-cengang menatapku, mereka masih menunggu hujan reda. Jika pelan-pelan, mataku masih bisa melihat walau hujan keras mengguyur. Tidak sakit menerpa wajahku seperti tadi. 25km/h pun bisa membawaku pulang.

Kalimat yang kudapat tadi adalah "Bertemanlah dengan badai".

Yep it's work! Kehidupan tidak selalu menyenangkan. Maka bertemanlah dengan badai, agar suatu saat jika berhadapan dengan masalah, itu akan menjadi hal yang biasa. Daripada berhenti dan menunggu nasib, jalani saja pelan-pelan dengan bijak. Kata buku bisnisnya Ippho Santosa, yang sukses bukanlah yang bermodal besar, tapi yang cepat dan cekatan! >:) hihihi.